I Depan I Pengalaman I Teknis Budidaya I FAQ I

Monday, January 09, 2006

Penghasilan Tambahan dari Budidaya Sayuran Organik

Oleh: Reina Asmedi, Oxfam GB/Indonesia

“Mimpi saya sekarang adalah membangun semacam tempat wisata organik. Di situ ada lahan sayur organik yang cukup besar dengan kolam ikan dan gubuk peristirahatan. Di tempat itu, selain menikmati keindahan alam, orang-orang juga dapat belajar cara menanam sayuran organik”.

Itulah mimpi Ibu Napsiah, 48 tahun, petani sayur organik dari Desa Pulungdowo, Malang. Entah butuh waktu berapa lama lagi dia dapat mewujudkan impiannya. Yang pasti, lahan sayuran organik seluas 500 m2 yang telah dikembangkannya sejak setahun yang lalu kini bertambah menghijau.

Nafsiah tidak pernah menyangka kegiatan bertanam sayur yang dulu dilakukan dengan setengah hati kini mulai membuahkan hasil. dari lahan seluas itulah sekarang Napsiah mengandalkan kehidupan ekonominya. Bertanam sayuran yang dikelolanya bersama Jalan suaminya dipandang memberikan penghasilan tambahan disamping dari bertani padi. “Dulu dari panen padi saya hanya mendapatkan kurang lebih Rp 840.000 per empat bulan. Sekarang, selain dari padi saya memperoleh penghasilan tambahan Rp 300.000 – Rp 400.000 per bulan nya dari lahan seluas 500 m2”..

Keberhasilan usahanya telah mengantarkan Nafsiah kepada pengalaman yang sama sekali baru. Sebuah perguruan tinggi di Malang pernah mengundangnya untuk bertukar pengalaman mengembangkan sayur organik. “Wah, ketika itu saya gugup sekali harus berbicara didepan orang-orang pintar” katanya. Dia juga gemar menularkan pengalamannya kepada tetangga-tetangganya. Tidak heran jika banyak warga sekitar Nafsiah yang mulai mengikuti jejaknya.

Ceritanya berawal ketika Mitra Bumi Indonesia (MBI), sebuah LSM lokal yang berlokasi di Malang-Jawa Timur memperkenalkan budidaya sayuran organik. Suprie anaknya yang kuliah di Fakultas Pertanian Brawijaya ketika itu PKL (Praktek Kerja Lapangan) di MBI mendapat benih sayur organik dari MBI. Nafsiah dan Suprie mencoba mengelolanya di lahan seluas 50m2. Lahan itu mereka tanami dengan 5 jenis sayur dalam petakan-petakan seluas 1 m2. Saat itulah Nafsiah sempat ragu. “Apakah mungkin menguntungkan menaman sayuran hanya dalam luasan 1 m2?”

Keraguannya ternyata tidak beralasan ketika bisa memanen sayuran 2 kali seminggu. Dan ini yang membuatnya untuk mulai menekuni usaha ini. Apalagi setelah tahu ternyata biaya bertani sayuran secara organik lebih murah, sebab sarana produksinya seperti pupuk organik bisa dihasilkan sendiri.

Sayuran tersebut dijual ke toko yang dikelola MBI. Toko yang didukung oleh Oxfam GB ini memang sejak tahun 2001 mengkhususkan diri menampung hasil produksi pertanian organik, khususnya sayuran dari petani-petani seperti Napsiah. Di toko inilah Napsiah dan petani sayur organik dampingan MBI lainnya menjual sayur organiknya dengan harga dan standard kualitas yang ditentukan bersama. Tentu saja tidak semua produk petani organik bisa dijual melalui toko MBI. Menurut Nafsiah mereka juga menjualnya di pasar lokal namun harganya biasanya lebih murah dari harga jual di toko MBI.

Selain memperkenalkan pertanian organik MBI juga memperkenalkan kepada petani dan konsumen prinsip-prinsip fair trade, yang dalam level petani berarti mengajak petani memperhatikan aspek penguatan kualitas lingkungan, hubungan social terutama kesadaran ketaraan gender, penguatan sumber daya keuangan. Aspek-aspek ini masuk dalam komponen biaya produksi sehingga disepakatilah harga jual yang layak dari produk tersebut. Dengan dampingan MBI, para petani sayur ini belajar menghitung komponen harga dasar jual selain biaya produksi, asuransi gagal panen, biaya tabungan masa depan, dan tabungan pengembangan usaha bagi petani, serta bagaimana mengorganisasi diri dan bagaimana proses ketidakadilan menimpa perempuan. Setiap 6 bulan sekali perhitungan-perhitungan biaya produksi dan nilai-nilai yang dianut dievaluasi. MBI menjamin bahwa semua produk yang dijual di tokonya digaransi pasti diproses secara organik dan diperdagangkan menganut prinsip-prinsip keadilan yang disebut fair trade.

Berkaitan dengan itu, MBI juga melakukan kampanye, pameran, dan pertemuan produsen-konsumen. Hal ini selain dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang prinsip-prinsip fair trade, perlindungan hak-hak petani miskin dan mengenalkan perdagangan yang adil, juga untuk menjaring minat masyarakat akan produk organik. Dengan cara seperti itu MBI berhasil menjaring 60 konsumen setia, dan 120 – 150 konsumen biasa. Kesadaran masyarakat tentang sayuran organik perlahan-lahan ditumbuhkan. Ibu Rudi salah satu konsumen setia MBI menyatakan bahwa meskipun banyak produk sayur organik yang dijual di supermarket besar, tetapi ia lebih memilih untuk membeli di toko MBI karena yakin bahwa produk-produk tersebut benar-benar hasil dari petani miskin dan diproses secara organik. Ibu Rudi pernah mengikuti pertemuan produsen-konsumen yang diadakan di desa Pulungdowo

Membangkitkan kesadaran petani untuk bertani organik memang tidak mudah. Sama dengan keberhasilan Nafsiah yang juga tidak diperoleh dengan mudah. “Harus lebih rajin dan telaten”, katanya. Menurutnya tantangan terbesar justru datang dari lahan-lahan tetangganya yang masih menggunakan bahan-bahan non-organik semacam pupuk kimia.

Sebagai institusi MBI melihat masih banyak tantangan yang harus dihadapi MBI untuk mewujudkan tujuan utama mereka yaitu membangun hubungan yang lebih manusiawi antara pertanian dan alam dan antara manusia yang memproduksi dan yang mengkomsumsi. . Saat ini banyak produk-produk organik di pasar yang dihasilkan oleh pemodal besar namun tidak diproduksi dengan memakai prinsip-prinsip seperti yang dianut oleh MBI. Bekerja di basis petani kecil tidak hanya berhadapan dengan penguatan nilai-nilai tetapi juga menyangkut bagaimana nilai-nilai itu secara praktis bisa dilakukan.

Tantangan lain adalah kebijakan pemerintah yang disebut “Go Pertanian Organik 2010” yang jelas maksudnya adalah tahap kedua revolusi hijau, dimana unsur-unsur pertanian organik dipabrikisasi dan tidak memperhatikan aspek hubungan harmoni antara manusia dengan manusia atau antara manusia dan alam. Di tataran yang paling praktikal MBI harus tetap mampu menjaga produktifitas (baik rutinitas, kuantitas maupun kualitasnya), di sisi lain masih perlu menjaga semangat petani (jangan sampai petani berorganik hanya karena proyek, tapi memang karena kesadaran dan kebutuhan mereka), serta menjaga loyalitas konsumen dan bagaimana nilai-nilai yang dianut bisa diinternalisasi .

Dan secara internal adalah bagaimana tetap menjaga semangat MBI sesuai dengan mottonya “bekerja konkrit dengan kontinyu, konsisten, dan konsekuen".

Wednesday, January 04, 2006

Bertani Organik Cara Rolling

Oleh: Yuniarta, Cingcing Sukopuro, Jabung Malang, Jawa Timur

Pada hari minggu di bulan Januari tahun 1999, saya diajak teman lembaga ke Kebun Cangar yang didampingi oleh dosen Universitas Brawijaya Malang untuk melihat tanaman sayuran yang dibudidayakan secara organik. Pada waktu itu yang ditanam di sana antara lain: letuce, brongkol, kobis dan kailan. Memang bagus dan sangat mengagumkan. Saya kurang percaya kalau tanaman di sana betul-betul dibudidayakan secara organik karena di desa saya yang dibudidayakan secara organik cuma tanaman padi, jagung kacang panjang, buncis, kacang tanah, labu siam dan tomat. Penanaman daun sawi dan kubis biasanya masih menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Walaupun waktu itu pak Toto Himawan (dosen UNIBRAW) menceritakan dengan lengkap cara budidaya dan pengendalian hamanya, saya masih belum percaya kalau tidak mempratekkan sendiri.

Ketika pulang dari Kebun Cangar saya diberi oleh-oleh 2 tas kresek besar berisi bunga kol dan brokoli. Setelah sampai di rumah kami berdiskusi bersama lembaga pendamping mengenai apa yang saya inginkan setelah berkunjung ke Kebun Cangar. Keinginan saya adalah mempraktekkan pertanian organik. Selang satu bulan saya menyewa lahan seluas setengah hektar untuk uji coba penanaman brokoli secara organik. Bersama satu orang teman, saya memulai pertanian organik.

Saya mengawali kegiatan pertanian organik dengan melakukan penyemaian. Pada waktu itu kami membeli benih sebanyak 7 bungkus, saya semai 4 kali. Penyemaian pertama hari jumat, tanggal 10 Maret tahun 2000 sejumlah 2 bungkus. Penyemaian kedua hari Jumat tanggal 17 Maret 2000 sejumlah 2 bungkus. Penyemaian ketiga tanggal 24 Maret 2002 sejumlah 2 saset. Penyemaian ke empat tanggal 1 April 2000 sejumlah satu saset. Penyemaian pertama kurang bagus, hanya tumbuh sekitar 200 tanaman karena dimakan semut. Penyemaian ke-2, 3, dan 4 sangat bagus, tumbuhnya mencapai 80 persen.

Cara kami melakukan penyemaian adalah: pertama, lahan dibersihkan dari rumput lalu kita cangkul, kemudian dibuat bedengan. Setelah itu setiap bedengan berukuran 2 meter kita berikan 2 pikul bokashi (sekitar 50 kg) secara merata. Setelah disiram sampai jumuh, bedengan dibiarkan satu minggu dibuat alur-alur berjarak 5 cm dengan bambu kecil. Setelah benih ditaburkan dengan jari telunjuk dan ibu jari tepat di alur-alur. Setelah terisi semua, alur-alur ditutup dengan bokashi kira kira 0,5 cm agar benih tidak kelihatan lalu disiram sampai jumuh. Setelah selesai, ditutup dengan daun pisang atau daun salak. Selang 3 hari tutup dibuka dan disiram setiap pagi dan sore sampai berumur 30 hari. Begitu juga penyemaian kedua, ketiga dan ke empat.

Penyemaian keempat dilakukan dengan mengolah lahan tempat menyemai pertama dengan membersihkan rumput / gulma. Setelah bersih kita buat bedengan berukuran 1 x 15 meter dengan tinggi 30 cm dan diratakan. Setelah itu dibuat gejik atau tugal. Tiap bedengan kita gejik 2 baris dengan jarak 50 cm. Setelah selesai bokashi dimasukkan dalam lubang sampai penuh, berat bokashi kira-kira ½ kg. kemudian bedengan ditutup dengan jerami sebagai mulsa setebal 3 cm, dan biarkan selama 1 minggu.
Sesudah seminggu dilakukan penanaman sejumlah 200 tanaman kemudian diberi air dengan cara dileb. Minggu kedua, dilakukan penanaman sejumlah 1000 tanaman. Minggu ketiga ditanam sebanyak 900 batang dan minggu keempat 900 batang hingga keseluruhan berjumlah 3000 tanaman. Separuhnya dari lahan seluas ¼ ha dibudidayakan secara organik dan separuhnya non-organik, walaupun pada pengolahan awal dan pengendalian hama perlakuannya sama. Bedanya hanya pada pemupukannya saja. Dari keseluruhan bibit yang berjumlah sekitar 3500, sisanya ditanam di pekarangan depan rumah untuk pembuatan benih.

Setelah selesai tanam dilakukan pengairan secara rutin setiap 1 minggu 3 kali sampai umur 1 bulan dengan cara dileb. Pada umur 1 minggu kita berikan pupuk cair yang terbuat dari rendaman tanaman paitan sebanyak 5 kg paitan direndam dalam air sebanyak 20 liter air selama 1 minggu. Pemupukan dengan pupuk cair dilakukan seminggu sekali sampai masa panen dengan cara dikocorkan di pinggir tanaman. Penambahan pupuk bokashi dilakukan setelah tanaman berumur 1 bulan bersamaan dengan penyiangan dan pembumbunan.

Ketika tanaman berumur 2 minggu ulat sudah mulai berdatangan tiap pagi dan sore. Ulat dikendalikan dengan cara petan (di ambil dengan tangan ) di setiap tanaman. Pada umur 50 hari dicoba pengendalian ulat dengan memakai pestisida alami ternyata hasilnya kurang memuaskan, karena yang mati hanya seperempatnya saja. Padahal penyemprotannya 1 minggu 2 kali. Setelah 2 minggu diputuskan lebih baik dengan cara yang pertama yaitu dengan mengambili dengan tangan.


Pestisida Alami

Bahan
5 kg gadung, 5 kg lurkung, dan 1 kg tembakau.

Cara pembuatan
Gadung dan lurkung diparut dan dicampur dengan tembakau, kemudian diperas dan diambil airnya, lalu disaring. Setiap 3 liter larutan dicampur dengan 17 liter air atau 1 tangki semprot.

Pada umur 50 hari mulai muncul bakal bunga dan tunas muda pada ketiak daun. Pada waktu itu saya biarkan saja. Ketika ada kunjungan dari Pak Totok dan melihatnya. Dikatakan bahwa tunas muda tersebut tidak boleh dibiarkan tumbuh.bersama. Pak Totok dan teman-teman saya membersihkan tunas muda tersebut agar tidak mengganggu atau menghambat pembesaran bunga. Ketika umur 60 hari brokoli mulai dipanen. Panen pertama dilakukan oleh Pak Totok, Ir. Suliana juga teman-teman dari MBI (Mitra Bumi Indonesia ) menghasilkan sebanyak 25 kg. Sungguh menggembirakan karena hasilnya sangat memuaskan. Semua hasil panen dibawa Pak Totok untuk dipasarkan dengan harga Rp 3500,-/kg.

O iya dari pengalaman dapat diketahui bahwa perbedaan tanaman yang organik dan yang non-organik adalah bunga tanaman organik bunganya padat besar dengan bobot rata-rata 8 ons. Sedang yang non organik bunganya kurang padat, daun-daunnya diwaktu berumur 1,5 bulan di bagian bawah banyak yang menguning atau rontok. Bunganya cepat sekali layu dan menguning dan bobot rata-ratanya 6 ons.

Kendala yang kami hadapi waktu itu adalah pemasaran. Dari jumlah total yang kami tanam sebanyak 3000 tananman dengan jumlah panen 955 kg, yang dapat kami jual hanya 395 kg. selain itu dijual ke super market Hero melalui Pak Totok sebanyak 125 kg, dan dimasukkan pasar lokal sebanyak 110 kg. Sisa panen kami bagikan kepada saudara dan orang-orang kampung. Itulah pengalamn bertani organik di Dusun Cincing.
Dari pengalaman di atas kami bersama teman- teman lembaga pendamping (MBI) mempunyai ide untuk memasarkan produk organik. Kami juga memperoleh pengalaman bahwa penanaman dalam jumlah besar bila hasilnya tidak laku dijual sehingga sangat merugikan petani. Untuk itu muncul ide dari teman-teman lembaga untuk menanam sayur dalam jumlah kecil terus menerus, yang dinamakan roling.

Sistem roling adalah cara penanaman sedikit demi sedikit setiap minggu dengan harapan tiap minggu bisa panen. Keuntungan sistem roling, pengolahan tanah bisa dikerjakan sendiri, bila ada hama bisa ditanggulangi dengan cara petani dan perawatannya lebih mudah. Kesulitannya, diperlukan pengawasan terus menerus. Ini mungkin karena belum terbiasa.

Dalam perjalanannya banyak teman petani yang ingin mencoba bertani sayuran organik. Saya bangga karena pada waktu itu pertanian organik yang saya lakukan mendapat tanggapan dari teman-teman petani. Saya juga ingin membentuk kelompok tani organik. Dalam membentuk kelompok saya pilah-pilah orang untuk menjadi anggota kelompok. Karena petani di daerah saya masih belum begitu paham pertanian organik dengan sistem roling. Saya berharap teman-teman yang dipilih bisa melakukan seperti yang saya lakukan , yaitu bertani oprganik sistem roling.

Akhirnya pada bulan september 2001 saya bersama 9 orang mendirikan kelompok tani organik yang kami beri nama Kelompok Tani Podo Poso. Awal perjalanannya lancar tetapi lama kelamaan pada musim kemarau teman-teman berhenti total. Hal ini karena lahan yang dipergunakan untuk berorganik jauh dari sumber air. Hambatan lain karena mereka masih belum mampu menanam dengan sistem roling, tetapi masih menggunakan sistem lama yaitu menanam dalam jumlah banyak sehingga sekali panen langsung habis.
Walaupun demikian Kelompok Tani Podo Poso sekarang masih tetap berjalan. Kelompok terbagi dalam 2 katagori yaitu kelompok inti dan kelompok pendukung. Kelompok inti adalah kelompok yang masih aktif melakukan penanaman sistem roling, sedangkan kelompok pendukung adalah petani organik yang belum bisa melakukan penanamn sistem roling.

Memperbanyak bakteri

Bahan
1 liter bakteri yang jadi, ¼ kg terasi,1 kg gula, 2 kg bekatul, dan 1 liter air panas.

Cara pembuatan
Terasi dan gula dihancurkan dalam ember berisi air panas. Setelah hancur dibiarkan hingga dingin.Sesudah itu dimasukan bekatul dan diaduk kira kira 5 menit, ditutup rapat dan didiamkan. Setelah 4 hari dibuka dan diaduk lagi kira- kira 5 menit. Selanjutnya di aduk setiap hari sampai genap 15 hari. Bakteri siap digunakan.


Pembuatan bokashi

Bahan
Kotoran kambing kurang lebih 7 kw , hijauan (daun paitan) 4 kw, bakteri 1 liter, air 5 liter.

Cara pembuatan
Pertama-tama membuat lubang berukuran 2 x 4 m sedalam 1 meter. Hijauan dihancurkan atau dirajang. Kemudian dimasukan sedikit demi sedikit bersama kotoran kambing dengan disiram air yang dicampur bakteri. Penyiraman harus merata. Setelah masuk semua, lubang ditutup plastik dan pinggir plastik ditimbun tanah selama 15 hari tutup atau plastik dibuka dan diaduk- aduk setiap 1 minggu sekali. Setelah genap 30 hari bokashi dikeringkan dengan cara bokashi yang sudah jadi dikeluarkan dari lubang dan ditempatkan di pinggir lubang, setelah 1 minggu dimasukkan ke dalam karung/glangsi, siap untuk digunakan.

Sumber: Wangsit, St; Daniel Supriyana. Buku Belajar Dari Petani, Kumpulan Pengalaman Bertani Organik. SPTN HPS- LESMAN-Mitra Tani. 2003.